Terdengar keluhan nafas yang sangat berat keluar dari mulutnya. “Kamu, sudah bulat dengan keputusanmu itu?” Dia menatapku dengan berjuta rasa harapan. “Kamu yakin akan baik-baik saja disana?”
Namaku Rian, panggil saja aku Ian. Begitu kebanyakan temen-temenku memangilnya. Aku adalah mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Malang. Universitas Negeri Malang tepatnya. Aku terlahir di daerah yang jauh dari tempat tinggalku sekarang ini. Aku lahir di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di daerah Cirebon. Mungkin dalam benak kalian bertanya-tanya kenapa saya tidak kuliah di Kota-kota besar yang dekat dengan Kota kelahiran saya. Misalkan di Bandung, Bogor ataupun di Jakarta. Ada satu ketertarikan ku terhadap kota yang sekarang aku tinggali yaitu di Kota Malang. Kota yang penuh dengan kisah termasuk kisah cintaku dengan Dian, anak Cirebon juga. Dia adalah salah satu Mahasiswi di salah satu Universitas yang berada sangat jauh dengan lingkunganku saat ini. Dia berjuang untuk menuntut ilmu di bidang Kesehatan Masyarakat di daerah Bandung. Dia berumur sama dengan umurku sekarang, namun dia lebih muda beberapa bulan dibandingkan diriku.
Kita – aku dan dia – adalah seseorang yang bisa dibilang sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya. Kita bisa dibilang sama-sama saling membutuhkan. Kebutuhan ku dapat dia penuhi dan sebaliknya. Kita berdua bisa sama-sama saling memenuhi antara satu dengan yang lainnya. Kita sama-sama berjuang demi cita-cita yang telah kita rangkai bersama.
Alun-alun Kota Batu terasa sangat dingin untuk orang pantai seperti ku. Jujur saja ini kali pertamaku menginjakan kaki di Kota ujung Timur dari pulau Jawa. Bukan keperluan keluarga atau yang lainnya, karena aku tidak punya keluarga di Kota ini. Ini adalah rangkaian agenda Study Tour agenda tahunan yang di laksanakan oleh sekolahku. Kegiatan ini salah satunya untuk pengenalan siswanya terhadap pandangan menuju langkah yang lebih jauh. Perkuliahan tentunya.
Keramaian Alun-alun Kota Batu adalah hal pertama yang aku lihat ketika masih berada di dalam bus yang telah mengentarkan ku dan rombonganku selama 2 hari ini. Aku melirik jam tangan yang ada di handphone ku. Masih pukul 20.00 WIB rupanya. Mataku tidak berhenti-hentinya untuk melirik setiap sudut Alun-alun Kota Batu yang sangat ramai kala ini. Sambil aku memasukan tangan di dalam jaket yang aku kenakan aku terus menyelusuri tempat yang sedang aku pijak untuk pertama kalinya.
Terlihat seseorang yang sedang tidak asing lagi bagiku. Tak aku sadari aku tersenyum melihat sesosok wanita yang sedang duduk memegang handphone di tangannya. Aku selalu tersenyum jika melihatnya, dalam keadaan apapun. Aku paling suka ketika dia sedang cemberut dan merasa kesal.
“Ian?” Sapaku memanggilnya.
“Iya.” Jawabnya sambil mengernyitkan kening. Kembali aku tersenyum dihadapannya “Kamu anak IPA itukan?”
“Sedang apa kamu disini?” Tanyaku kepadanya, sambil aku duduk di sampingnya.
“Kamu. Sedang apa disini?” Tanyanya balik.
“Tuhan. Kenapa tidak sama anak-anak yang lainnya?”
“Kamu juga.”
“Aishh, Keliling yuk dari pada disini kamu cemberut terus.” Tak aku sadari aku ngucapkan satu kata permintaan yang keluar dari mulutku. Ini adalah dialog pertamaku dengan wanita yang selama ini aku idamkan.
“Tapi jangan banyak bicara. Aku sedang tidak ingin berbicara.”
Kami mengelilingi Alun-alun Kota yang berbentuk persegi. Awalnya aku merasa heran dengan sikapnya karena kami telah memutari tempat ini sebanyak dua putaran. Cukup untuk membuat kakiku terasa sangat merasa lelah. Dia mulai banyak mengeluarkan kata-kata setelah melewati tempat yang kami duduki tadi. Dia mulai menceritakan banyak hal tentang apapun. Mantan, pertentangan di dalam keluarganya, masalah mata pelajaran sampai-sampai aku tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan sepatah-kata. Aku hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepala, dan berkata iya dan tidak. Terbesit dalam pikiranku, ternyata dia lebih cerewet dari apa yang aku bayangkan sebelumnya.
Begitulah adanya. Hari-hariku kini dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang menghangatkan antara aku dengan Dian, namun sekarang aku sudah mulai bisa terlibat dalam pembicaraannya. Dia adalah orang yang periang sangat-sangat periang. Tidak kujumpai lagi kegundahan ataupun wajah cemberut yang terpancar dari wajahnya, kini aku mulai bisa melihat senyumannya yang begitu sempurna di bandingkan dengan semua anak-anak yang pernah aku temui di sekolah tempat ku menimba ilmu. Menurutku. Dan aku merindukan muka cemberut dan muka cuek yang pernah dia buat.
Aku baru bisa mengerti sekarang, kenapa dia belum juga mengeluh. Aku pernah melihatnya menangis dihadapanku, namun dia berkata setelahnya. “Aku tidak menangis. Aku bukanlah wanita yang lemah. Aku bukanlah wanita yang seperti kamu bayangkan. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali mengeluarkan air mata dari kedua mataku”.
Dia merubah total kehidupanku. Aku tidak lagi mencari dan bersembunyi-bersembunyi untuk bisa melihatnya. Kini hanya dengan menyalakan laptopku aku telah bisa melihat wajahnya, melihat senyumannya, mendengar ketawanya dan semua yang dia lakukan.
Dia orang yang periang aku rasa, dan aku nyaman berada di dekatnya.
“Surat apa yang kamu bawa ini Ian?” Dian menanyakanku ketika aku mengasihkan lembaran kertas kepadanya.
“Baca sudah, nanti kamu bakalan tau apa isi kertas itu.” Celetukku menyuruh Dian untuk membacanya.
Aku lihat keningnya berkerut ketika dia membaca bait pertama isi dari kertas yang telah aku kasihkan kepadanya. Satu detik kemudian senyuman di bibirnya pun terpajang jelas dihadapanku dan berubah menjadi kemurungan yang tergambar di wajahnya. Dia terus menunduk setelah membaca isi keseluruhan dari beberapa lembar kertas yang aku bawa. Tak aku sadari pipinya yang bersih dialiri oleh air matanya yang mengalir.
Aku tersenyum melihatnya dan menggenggam erat tangannya. “Ian. Kamu ingat beberapa minggu yang lalu kamu pernah bilang bahwa kamu ingin mengelilingi alun-alun Kota Batu seperti apa yang pernah kita lakukan bersama?” Dia menatap mataku dengan pandangan yang berbeda. Seperti ada sesuatu benda yang berada di atas punggungnya.
Terdengar keluhan nafas yang sangat berat keluar dari mulutnya. “Kamu, sudah bulat dengan keputusanmu itu?” Dia menatapku dengan berjuta rasa harapan. “Kamu yakin akan baik-baik saja disana?”
“Tuhan, aku harus bagaimana?” Aku berkata dalam hati. Atu tidak bisa berkata apapun, aku hanya menggelengkan kepalaku sambil terus menggenggam erat tangannya. “Tuhan, aku tidak ingin melihatnya bersedih. Aku tidak ingin melihat dia menangis. Lagi” Aku melepaskan pelukanku kepadanya, berharap bisa meredakan kesedihan dan keluhan yang ada di dalam dirinya. Aku tahu maksud dari tangisan ini dan aku tahu jelas arti dari perpisahan yang akan aku hadapi nanti.
Aku melepas pelukanku setelah merasakan alunan nafasnya teratur keluar masuk untuk kebutuhan pembakaran dirinya. Aku berusaha untuk menghapus air mata yang masih menempel pada pipinya dan mencium keningnya sebagai tanda kasih sayang ku untuknya. Aku tersenyum begitupun dia. Aku kembali memeluk tubuhnya dengan erat dan berkata “Tenang saja sayang. Aku akan baik-baik saja. Akan aku bawa kamu untuk kembali mengelilingi alun-alun seperti apa yang telah kita lakukan tempo dulu.”
Jujur saja, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Perpisahan memang sangatlah berat untuk semua insan yang hidup, terlebih bagi yang sudah bisa mengeartikan apa itu kasih dan sayah, apa itu cinta dan mencintai, apa itu perjumpaan dan perpisahan dan apa itu kepercayaan dan keyakinan. Aku yakin sedikit dari kita pasti pernah merasakan beratnya berpisah, namun tuhan telah menakdirkan perbedaan dari setiap hal yang ada di dunia ini. Hidup dan mati, kaya dan miskin, baik dan buruk, susah dan senang, ada dan tiada, jumpa dan berpisah dan masih banyak lagi hal yang seharusnya dapat kita mengerti dan pahami, agar kita dapat mengerti makna dari perbedaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar