Minggu, 04 Agustus 2013

Kami adalah …. Part 2 Final

Aku kembali memeluk tubuhnya dengan erat dan berkata “Tenang saja sayang. Aku akan baik-baik saja. Akan aku bawa kamu untuk kembali mengelilingi alun-alun seperti apa yang telah kita lakukan tempo dulu.”
Aku adalah anak ke-3 dari 4 bersaudara. Aku adalah satu-satunya anak perempuan diantara saudara-saudaraku yang lainnya. Orang tua ku dan kedua kakakku sangatlah menyayangiku. Aku selalu dimanjakan oleh mereka, apapun yang aku pinta pasti mereka turuti, namun aku bukanlah anak yang suka meminta-minta. Aku dididik oleh ayahku untuk dapat hidup mandiri, bahkan aku dituntut oleh beliau agar selalu berusaha dalam setiap hal apapun, karena beliau ingin anak perempuannya tidak menjadi anak yang pemalas dan suka menyuruh orang lain. Mungkin dalam kultur keluargaku berusaha adalah hal yang penting untuk anak-anaknya, bahkan adikku yang kini masih bersekolah di bangku SD kelas 6 sudah di tuntut untuk mengerjakan keperluannya sendiri. Bukan berarti keluargaku malas untuk membantu, namun kemandirianlah yang diutamakan dalam sistem kekeluargaan keluargaku.
Aku bersekolah di SMA yang bisa dibilang terkenal di Daerahku, sebab sekolah ini adalah satu-satunya sekolah yang menjadi patokan untuk sekolah lainnya. Aku juga tidak tau ada apa dengan sekolahku, yang jelas di tempat aku menuntut ilmu aku menemukan banyak sekali kelebihan dibandingkan dengan tempat-tempat belajar lainnya. Namaku Dian Permata Sari, panggil saja aku sekukamu. Menurutku nama bukan menjadi patokan untuk seseorang memanggilnya, namun nama akan menjadi ciri dan sebagai tanda pengenal dari seseorang itu. Teman-temanku biasa memanggilku Ian, mungkin mereka mengambil dari tiga hurup terakhir dari nama depanku. Aku bertempat tinggal di bibir pantai kotaku yang dinamai dengan Kota Cirebon. Kota salah satu penghasil udang dan udang menjadi julukan dari kotaku.
Aku merasa gembira sekali, karena pada tahun ini sekolahku mengadakan acara Study Tour. Acara yang biasa di agendakan setiaptahunnya, salah satu tujuannya untuk member gambaran bagi siswa-siswinya dalam hal menuntut ilmu tingkat lanjut, namun bukan karena itu aku merasa senang. Ada hal lain yang membuatku gembira, salah satunya adalah route yang akan di tempuh berfokus di daerah timur Pulau Jawa. Aku sangatlah buta akan keadaan disana. Aku bahkan merasa bosan karena terlalu sering mengunjungi kota-kota besar di sekitar tempat aku tinggal, seperti Ibu Kota, kota Hujan Bogor, kota Kembang Bandung, aku sudah bosan.
Hanya dengan mengedipkan mata, hari yang aku tunggu pun datang. Hari dimana aku dan teman-teman yang lain berkunjung ata menjelajah lebih tepatnya di timur Pulau Jawa. Aku tak henti-hentinya melihat sekeliling jalan merasa takjub dengan keadaan yang baru pertama aku lihat, namun ada satu tempat yang membuat aku merasa penasaran. Kota Wisata Batu, yang aku tau kota ini adalah kota wisata yang berada jauh dari titik 0 diatas permukaan laut. Aku sudah membayangkan bagaimana keadaan udara disana, yang pasti tidak sepanas tempat tinggalku.
“Hufhh.” Aku mengeluh panjang. Ada sesuatu yang memberatkanku ketika aku berada di sekitar Kota Batu Malang. Kenapa harus dia yang selalu mengacaukan kehidupanku?! Aku sebanarnya sudah berusaha untuk mejauh dari kehidupannya, namun dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini. Dia hanya mementingkan napsunya untuk terus bisa menjalin hubungan denganku. Teror, teror dan teror. Kenapa hidupku seperti di berada dalam jeruji besi yang membatasiku dengan kehidupan luar? Dan kenapa tidak ada seseorang yang berusaha untuk membebaskan aku yang saat ini sedang di krangkeng?
Bus yang aku naiki berhenti di depan masjid yang berada di samping alun-alun Kota Batu. Seharusnya aku merasa bahagia berada disini, namun seseorang telah merusak kebahagiaanku. Ku lirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan ku. 20.00 WIB. Aku kenakan sweeter ku, karena temenku sempat bilang sebelumnya bahwa tempat yang akan kita jumpai khususnya di batu dikenal dengan udaranya yang dingin. Perlahan aku pijakan kakiku di tangga pintu bus yang telah berhenti di depan masjid. Aku melihat teman-temanku sudah mulai berserakan kesana kemari, sibuk dengan kamera yang berada di tangannya. Memotret segala hal yang menurutnya menarik.
Aku melangkahkan kakiku mencari tempat yang tidak terlalu ramai menurutku. Keindahan dan keramaian tempat ini tidak bisa membuatku keluar dari kepenatan yang sedang saya rasakan. Aku disibukan dengan menekan tombol merah yang ada di handphonku yang sekarang aku pegang. Sesekali aku menekan tombol hijau dan lagi-lagi seseorang di balik speaker menanyakan pertanyaan kritis yang tertuju untukku. Aku muak!
Tanpa aku sadari seseorang telah berada di hadapanku. Aku tahu jelas siapa dia. Dia anak IPA, Dia bersekolah sama dengan ku. Aku benci anak IPA! Anak IPA dipandang jelek olehku, mereka sok pintar, sok kritis dan menangnya sendiri.
“Ian?” Sapanya memanggilku, sambil melebarkan bibirnya bertanda tersenyum kepadaku. Aku bahkan tidak merespon sama sekali sapaannya. Kenapa orang ini yang datang disaat aku merasa kesal? Adakah seseorang yang lebih bisa membuatku kesal agar bisa aku marahi orang itu.
“Iya.” Jawabku. Aku mengerutkan keningku bertanda ketidak sukaanku akan kehadirannya. “Kamu anak IPA itukan?” Tanyaku dengan celotehan yang sangan membosankan
“Sedang apa kamu disini?” Tanyanya kembali, sambil duduk di sampingku.
Aku berfikir sejenak, dalam benakku bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang dia lihat, sampai-sampai dia tidak bisa melihat aktifitasku yang sedang aku lakukan. “Kamu. Sedang apa disini?”
“Tuhan. Kenapa tidak sama anak-anak yang lainnya?” Tanyanya berusaha untuk mencairkan suasana.
“Kamu juga?!” Cetusku.
“Aishh, Keliling yuk dari pada disini kamu cemberut terus.”
Ah, aku sudah bisa menebak. Lihat saja sampai kapan dia bisa merasa nyaman dengan tingkah laku ku yang akan aku lakukan untuknya. “tapi jangan banyak bicara. Aku sedang tidak ingin berbicara.” Pintaku kepadanya sambil memasang wajah sangar.
Dalam hati aku banyak sekali menguntap. Kenapa dia sama sekali tidak berbicara. “Dia bisu kah?”. Padahal kami telah mengelilingi alun-alun hingga aku merasa sangat lelah. Rian berjalan di belakang aku, sedangkan aku sedari tadi tidak menengok kebelakang. Sebenarnya aku sangat-sangat merasa kesal, namun dalam perjalanan aku terus-terus berfikir untuk mencari jawaban. “Sebenarnya siapa yang aku benci? Anak-anak IPA atau Si Rian?”
Rian membuat aku merasa iba. Iba? Merasa kasihan lebih tepatnya. Tapi kenapa? Pertanyaan itu juga yang tidak bisa aku jawab. Hingga akhirnya aku merasa lelah dengan permainan yang telah aku buat sendiri. Aku tidak bisa membuat dia merasa kesal. Aku tidak bisa membuat dia merasa lelah denga tindakan aku yang mendeiamkan dia. Hingga akhirnya aku menyerah.
“Ian? Kalo boleh aku tanya. Kamu lebih memilih balikan atau cari pacar lagi?” Tanyaku kepada Rian.
“Cari pacar lainlah.” Rian menjawab pertanyaanku tanpa melihatku.
“Akhir-akhir ini aku dibuat kesal sama seseorang yang pernah aku jadikan pacar dulu. Sebenarnya aku tidak tau permasalahannya kenapa, yang aku tahu dia masih belum terima kalau waktu lalu dia aku putusin.” Rian hanya menganggukan kepalanya dan bergumam “Emm..?” tanpa menatapku. Aku mulai mencerocos sendiri. Menuangkan segala yang membebani kepalaku. Aku merasa nyaman walau dia tidak melakukan apapun, namun aku tahu kalau dia ingin mendengan semua alasanku mulai dari aku berpisah dengan teman-teman yang lain, atau bahkan karena aku kesal sendiri.
Aku sudah terlalu banyak menuangkan segala penderitaan yang mengikatku, namun satu hal yang tidak aku sadari. Aku tidak punya lawan bicara, walaupun ada Rian. Dia cenderung diam. Dia hanya mengangguk dan menggelengkan kepalannya, sesekali dia hanya mengucapkan “iya” dan “tidak”. Mungkin ini karena aku tidak mempersilakan dia bicara. Aku selalu memotong pembicaraannya, aku sama sekali tidak memberikan dia kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dia atau sebuah solusi dari dia.
Hingga aku menayakan sesuatu kepadanya. “Kamu tidak lagi suka sama seseorangkan?” Dia merespon banyak tentang pertanyaanku yang tadi. Aku menemukan warna di setiap pembicaraan. Dia bahkan sudah mulai nyaman untuk mengutarakan semua isi harinnya. Hingga akhirnya aku mengetahui bahwa dia sedang merasa jatuh cinta. Tapi kepada siapa?
“Ian? Kamu sempat berfikir tidak kalau kamu bisa kembali megunjungi alun-alun Batu?” Tanya Rian dengan mata menatapku.
Aku tersentak mendengar pertanyaanya. Suasana yang tenang seakan menjadi sangat tenang. “Iya. Kenapa Ian?” Jawabku
“Aku ingin mengunjunginnya untuk yang kedua kalinnya Ian. Aku berharap ada seseorang yang bisa menemaniku untuk kembali berkunjung kesana.”
“Ian? Kamu?”
“Ian? Kamu pernah merasakan hal seperti yang pernah aku rasakan?”
Rian memotong pembicaraanku. Dia seakan melarangku untuk berbicara. “Maksud kamu?” Tanyaku kepadanya.
“Kamu masih ingat ketika kamu menanyakan sesuatu tentang perasaanku? Aku hanya merasakan ada seseorang telah masuk kedalam kehidupanku saat ini.”
“Siapa Ian?” Tanyaku kepadannya. Dia terus menatapku, seakan dia ingin membaca semua yang ada di dalam pikiranku.
“Kamu.”
Aku tidak tau apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku hanya bisa menunduk, sedikitpun aku tidak berani untuk menegakkan kepalaku dan kembali menatapnya. Aku hanya terdiam untuk beberapa waktu hingga aku merasakan sepasang tangan menggenggam erat kedua tanganku.
“Ian. Aku tahu kamu merasakan hal yang sama seperti ku. Ijinkan aku untuk merasakannya lebih lama. Ijinkan aku untuk bisa masuk kedalam kehidupanmu. Sepenuhnya.”
Pikiranku melayang jauh. Seakan jiwaku tidak menyatu lagi dengan raga. Aku terus-terus menunduk dan aku tak sadar ketika aku menggerakan kedua tanganku untuk menggenggam erat sepasang tangan yang sedari tadi menggenggam kedua tanganku. “Ian. Aku bersedia menemanimu untuk mengunjungi tempat dimana kita bertemu. Aku bersedia.”
Kini, dia telah merubah jalan hidupku. Aku menjadi sangat teratur sekarang. Emosiku bisa terkontrol karenanya. Pemikiranku bisa lebih terbuka, keputusan dalam setiap pilihanku tidak aku putuskan sendiri, setidaknya ada pandangan orang lain terhadap keputusan yang akan aku ambil. Dialah orang yang bisa membuat aku merasa nyama, dialah orang yang bisa membuat aku menjadi hidup dan dialah orang yang bisa mencairkan hati saat aku merasa bimbang dan ragu. Dialah Rian.
Kelulusanku tinggal menghitung hari. Tekatku dan Rian sudah sangatlah bulat. Aku dan Rian sama-sama ingin melanjutkan sekolahku di tempat yang pernah kami janjikan. Malang tepatnya. Aku tidak sabar untuk menanti tukang surat untuk mengirimkan surat kelulusanku. Aku tidak memikirkan aku lulus atau tidak, namun aku hanya ingin cepat-cepat mendaftarkan diri ke Universitas yang aku sudah targerkan.
Rencana hanyalah sebuah rencana. Harapan hanyalah tinggal harapan. Keluargaku mempunyai hal besar yang berbanding terbalik dengan keinginanku. Keluargaku manginginkan anaknya – aku – untuk bersekolah di Barat Pulau Jawa. Kota Bandung lebih tepatnya. Keluargaku menentang pilihanku untuk tinggal di Malang dengan alasan aku anak perempuan dan mereka tidak mau jauh dari anaknnya. Aku tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini. Surat keputusan Universitas yang aku kasihkan kepada orang tuaku tidak lagi aku temui sekarang. Dengan sangat berat hati, aku berjalan untuk mengarungi tampat yang telah dipilih oleh keluargaku. “Maafkan aku Ian”.
Kami berdua duduk di tempat yang biasa kami kunjungi ketika matahari mulai surut. Kami hanya terdiam sambil menerawang jauh lautan lepas. Yang aku dengar hanyalan deburan ombak dan kuatnya suara angin yang meniup dari arah depan. Aku bersandar di bahu Rian sambil memeluk tanggannya yang sedari tadi aku berada tepat di sampingku.
“Ian? Kamu sudah dapat kabar?” Tanya Rian kepadaku.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku mencoba untuk melepas lilitan tanganku dari lengan kanannya. Aku melihatnya membuka tas kecil yang dia bawa dari rumah. Aku tahu persis apa yang akan dia ambil, sebuah berkas yang sama seperti yang aku punya kemarin.
“Surat apa yang kamu bawa ini Ian?” Aku bertanya kepada Rian, berharap ada penjelasan lain dari dia.
“Baca sudah, nanti kamu akan tau apa isi dari kertas itu”. Rian hanya tersenyum melihatku membulak-balikan beberapa lembar kertas yang saat ini aku pegang.
Malang, 5 Juli 2013
Kami selaku panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Negeri Malang Mengucapkan selamat kepada:
Nama : Rian Praditia Wibowo
No Peserta Tes : 13010232
Dinyatakan lolos dalam seleksi Tes Masuk. Dengan Keterangan Terlampir.
Persis. Surat ini sama seperti apa yang aku terima beberapa hari yang lalu. Aku hanya bisa tertunduk lemas. Aku merasa ada penyesalan telah terjadi. Aku mengumbar janji kepada Rian, namun aku tidak tau sendiri apakah janji itu bisa aku tepati. Ian? Kamu apakah kamu tau apa yang terjadi saat ini? Bukan aku itidak mau menentang keluargaku, namun ini lah yang terjadi saat ini. Bahkan surat keputusan Universitas yang aku terima tidak lagi aku lihat sampai saat ini. Apakah kamu tau itu? Aku minta maaf tidak bisa ikut kamu, aku harus memilih jalan lain untuk bisa mencapai cita-citaku. Namun aku yakin suatu saat nanti aku bisa menepati janji aku untuk bisa bersama-sama berada di tempat yang pernah kita janjikan.
“Ian. Kamu ingat beberapa waktu yang lalu kamu pernah bilang bahwa kamu ingin mengelilingi alun-alun Kota Batu seperti apa yang pernah kita lakukan bersama?” Rian berusaha untuk mencairkan suasana saat ini. Dia menggenggam erat kedua tanganku yang sedari tadi lemas tak berdaya.
“Kamu, sudah bulat dengan keputusanmu itu?” Aku menatap matanya berharap bisa menenangkan hatiku yang saat ini sedang tidak karuan. “Kamu yakin akan baik-baik saja disana?” Tak terasa air mataku mengalir deras, bukan karena aku tidak bisa jauh dari dia, namun ada sedikit hal yang mengganjal. Yaitu karena aku tidak bisa menepati janjiku kepadanya.
Rian masih menggenggam kedua tanganku, aku merasakan bahwa dia menggenggamnya dengan sangat-sangat kuat. Berharap tidak ada satupun orang yang akan melepaskannya. Air mataku pun terus mengalir menetesi rambut panjangku. Rian berusaha untuk memelukku dan aku hanya bisa bersandar di dadanya. Aku menemukan kelembutan kasih sayang yang dia berikan untukku. Aku menemukan ketenangan yang saat ini sedang aku butuhkan. Aku tidak lagi mendengar penjelasan lain yangkeluar dari mulut Rian. Aku hanya mendengar semeliwir angin pantai dan keriuhan ranting dan daun dari pohon tempat kami berdua berteduh.
“Ian. Kamu mungkin sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Aku harap kamu bisa mengerti aku Ian. Sekarang memang aku tidak bisa menepati janjiku untuk pergi bersamamu, namun suatu saat nanti aku akan menepati janjiku. Aku janji.”
Aku merasa nyaman berada di dalam dekapannya. Dan menurut aku jarak bukan satu-satunya halangan untuk menjalin sebuah hubungan, apalagi dengan keadaan saat ini. Alat komunikasi begitu canggihnya. Kita bisa bertatapmuka dalam waktu yang bersamaan dengan tempat yang sangat jauh sekalipun. Yang kita butuhkan hanyalah kepercayaan dan pengertian. Dan bukan karena jarak cinta di korbankan.
Aku Dian. Aku Mahasiswi Universitas Padjadjaran Bandung. Salam kenal dariku.









































Tidak ada komentar:

Posting Komentar